INDONESIAN MILLENNIALS FAVORITE MATRIMONY BRAND AWARDS 2022

Pernikahan merupakan seremoni penyatuan dua insan yang memiliki sejarah panjang dan erat dengan kebudayaan setempat. Jauh sebelum masa kini di mana pernikahan erat kaitannya dengan cinta dan kasih sayang, mayoritas pernikahan dulu adalah pengaturan yang sengaja disusun untuk tujuan tertentu, akumulasi kekayaan misalkan. Sepanjang sejarah, pernikahan lebih banyak menghimpit perempuan belia ke dalam cengkraman suami dan keluarga, tanpa ada alternatif-alternatif pilihan lain untuk mereka. Begitupun, perkembangan zaman turut mendorong perubahan hak-hak keseteraraan perempuan, sebagaimana posisinya dalam pernikahan. Dalam konteks kontemporer, pernikahan dimaknai sebagai institusi yang menautkan dua manusia dalam satu perjalanan abadi sebagai belahan hati.

Transformasi positif pernikahan sebagai institusi merupakan bukti perkembangan peradaban yang bergerak maju. Dalam dinamika perkembangan tersebut, pernikahan terus diredefensi di tiap-tiap generasi, semakin positif secara linier. Di masyarakat Indonesia, pernikahan bukan hanya dimaknai sebagai prosesi kultural, namun juga ritual keagamaan. Pemahaman ini setua sejak agama-agama moderen belum masuk ke Indonesia, hingga kini. Usia orang siap menikah yang lazim diyakini di Indonesia berkisar antara rata-rata 20-30 tahun, sedangkan usia minimal yang diperbolehkan pemerintah adalah 19 tahun sebagaimana diatur dalam UU NO. 16 tahun 2019. Dengan demikian, saat ini pernikahan lebih banyak terjadi di kalangan generasi milenial, yang lahir antara tahun 1980-2000an. Sebagaimana pernikahan senantiasa diredefinisi oleh berbagai generasi, begitu juga bagi para milenial Indonesia yang memiliki definisi konsep pernikahannya sendiri.

Generasi milenial merupakan istilah yang dicetuskan oleh sejarahwan Amerika Neil Howe dan William Strauss (1991) untuk menggambarkan angkatan anak Amerika yang lahir pasca generasi X. Menurut dua Sejarahwan ini, tiap angkatan memiliki ciri non- liniearnya masing-masing. Generasi milenial—yang rata-rata dibesarkan oleh orang tua baby boomers dan generasi X—memiliki ciri optimistik namun di sisi lain juga seringkali terjebak dalam unrealistic expectation yang dibebankan kepada mereka. Di indonesia, jumlah penduduk milenial sebanyak 25,87%, terbanyak kedua setelah generasi Z yaitu 27,94% (BPS, 2021). Ciri khas ini memengaruhi cara pandang dan preferensi mienial dalam   melihat   pernikahan.   Menurut   studi   Pew   Research   Center (2018),  milenial cenderung menunda pernikahan, sebagian besar bahkan memilih untuk tidak menikah. Sebagian yang memilih untuk menikah, menikah di umur yang cukup matang, seperti 27-30 tahun. Milenial memilih fokus terhadap pencapaian dan kestabilan finansial sebelum menikah. Dibanding generasi pendahulunya, milenial menganggap pernikahan sebagai sebuah pilihan daripada keharusan.

Tren pernikahan yang terjadi di kalangan milenial, menunjukkan korelasinya terhadap kebutuhan mereka akan pentingnya perayaan atau resepsi. Pandangan generasi milenial terhadap pernikahan yang lebih konsideratif, sekaligus menunjukkan keseriusan mereka membangun institusi ini. Dalam laporan yang dilakukan oleh Bridestory berjudul Tren Pernikahan di Indonesia 2016, mayoritas responden sebanyak 70,6% mengatakan kedua calon mempelai merupakan penentu utama dari rencana pernikahan mereka. Setengah dari jumlah responden, atau sebayak 52,6% mengatakan mereka membiayai pernikahan dengan dana sendiri. Sedangkan responden milenial tersebut mayoritas memilih tema pernikahan moderen atau semi moderen dengan konsep yang lebih intim dan murah. Sebanyak 34,5% condong pada tema moderen, walaupun di banyak kasus, preferensi orang tua—yang notabene baby boomers— seringkali ikut memengaruhi konsep pernikahan. Sehingga milenial terkadang juga perlu mengkompromikan preferensi sendiri dengan orang tua.

Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya sekedar prosesi kultural turun temurun atau fase hidup yang wajib dijalani. Pernikahan adalah pilihan diri, proses berkompromi sepanjang hayat, bentuk ketaatan terhadap agama, dan aktivitas ekonomi yang melibatkan berbagai orang dengan peran masing-masing—mulai dari resepsi sampai berumah tangga itu sendiri. Definisi-definisi tersebut merupakan rangkuman pernikahan bagi kalangan milenial, yang bisa jadi akan terus diredefinisi oleh generasi-generasi ke depan. Sebagai sebuah media yang peka terhadap isu-isu perempuan, HerStory.co.id memandang pernikahan sebagai prosesi kompleks yang akan terus dilakukan antar generasi. Pernikahan membawa serangkaian tujuan baru dalam hidup pasangan, mulai dari pembagian peran hingga keberlanjutan keturunan. Hal-hal tersebut erat kaitannya dengan isu kesetaraan perempuan sebagai istri dan ibu.

Berangkat dari perhatian tersebut, HerStory.co.id berupaya untuk senantiasa mengangkat topik pernikahan ke dalam lensa media kami. Pada kesempatan kali ini, HerStory.co.id berusaha mengangkat topik tersebut melalui award atau penghargaan.

Melalui topik pernikahan, HerStory.co.id ingin menjembatani kebutuhan dan  preferensi seputar pernikahan calon mempelai atau pasangan menikah milenial dengan berbagai merek yang mengakomodasi hal tersebut. Harapannya, tren preferensi pasangan milenial dapat menjadi data yang berguna baik bagi riset maupun penyedia barang atau jasa itu sendiri. Penghargaan ini bertajuk Indonesian Millennials Favorite Matrimony Brand Awards 2022: “Towards a Long Haul of Eternity, Together”

  • 00

    days

  • 00

    hours

  • 00

    minutes

  • 00

    seconds

Date

May 30 2022

Time

2:00 pm - 5:00 pm
Category

Leave a Comment