RECOVERY PHASE; Fundamental Transformation for MSME

Indonesia telah memasuki tahun ketiga pandemi Covid-19. Penurunan kasus telah memberikan harapan besar akan kebangkitan dunia usaha, khususnya bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terpukul keras akibat wabah ini. Berdasarkan data Laporan Perekonomian Indonesia 2021 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), 87,5% UMKM terdampak pandemi dan 93,2% di antaranya terdampak dari sisi penjualan. Selain itu, 40% UMKM juga mengalami penurunan penjualan antara 25-50%.

Makna pemulihan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pemulihan UMKM mengingat besarnya peran sektor tersebut bagi perekonomian nasional. UMKM mendominasi sebesar 99,9% dari total jenis usaha di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2018-2019, jumlah tenaga kerja yang terlibat di sektor UMKM mencapai 96,92% pada tahun 2019. Sektor UMKM juga berkontribusi sebesar 60,51% terhadap PDB nasional dan 15,65% pada total ekspor nonmigas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemulihan ekonomi nasional akan sulit tercapai tanpa dibarengi pemulihan di sektor UMKM.

Pemulihan UMKM pascapandemi diharapkan bukan hanya kembali pada kondisi sebelum pandemi, melainkan juga menjadi momentum memperkuat fundamental dan transformasi UMKM untuk siap menangkap peluang dan menghadapi berbagai tantangan krisis maupun perubahan iklim di masa yang akan datang. Saat ini, pemerintah berfokus melakukan transformasi yang diharapkan akan mendukung UMKM naik kelas dan memiliki daya saing baik di pasar domestik maupun pasar internasional.

Dikutip dari website Kementerian Koperasi dan UKM RI, Menteri Teten Masduki optimis untuk meningkatkan kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar 63%, rasio kewirausahaan nasional sebesar 3,75%, kontribusi ekspor UKM sebesar 15,8%, serta usaha mikro yang bertransformasi dari informal menjadi formal sebesar 4%. Selain itu, pemulihan transformatif di tahun 2022 juga akan diwarnai dengan peningkatan jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital sebesar 30%. Dengan kata lain, sebanyak 20 juta UMKM akan go digital pada tahun 2024 dengan saat ini sebanyak 16,9 juta UMKM sudah onboarding ke ekosistem digital.

Namun, dalam perjalanannya, berbagai entitas dalam ekosistem akan diperhadapkan pada banyak tantangan, khususnya terkait isu besar seperti pembiayaan, digitalisasi, integrasi data, adopsi bisnis berkelanjutan, dan daya saing baik di pasar domestik maupun pasar internasional.

Pembiayaan di sektor UMKM masih menjadi perhatian mengingat masih tingginya tingkat keterbatasan akses pembiayaan, khususnya bagi pelaku usaha ultra mikro maupun pelaku usaha yang berdomisili di daerah terpencil. Selain upaya menaikkan target pembiayaan UMKM hingga 30% dari total kredit perbankan pada tahun 2024, pemerintah juga telah membentuk Holding Ultra Mikro BUMN yang diharapkan akan menghadirkan pembiayaan yang sesuai dengan karakter UMKM dan efisiensi pelayanan yang mampu menjangkau sektor yang belum tersentuh pembiayaan formal sehingga berkontribusi meningkatkan kelas pengusaha ultra mikro, mikro, dan kecil di Indonesia. Selain pembiayaan, isu digitalisasi dan integrasi data juga menjadi perhatian. Digitalisasi merupakan peluang, tetapi juga tantangan untuk meningkatkan kelas pengusaha yang berdaya saing di pasar domestik dan internasional. Selain itu, integrasi data ekosistem UMKM juga merupakan hal yang krusial mengingat peran UMKM sebagai pilar ekonomi, kompleksitas masalahnya, dan banyaknya upaya simulus atau kebijakan yang dilakukan, tetapi dianggap tidak efektif, efisien, dan sinergis karena minimnya sinergitas data.

Selain itu, adopsi bisnis berkelanjutan dan daya saing UMKM di panggung domestik dan internasional merupakan persoalan yang tidak sederhana. Mengingat skalanya yang besar, UMKM diharapkan turut berkontribusi mengurangi dampak buruk perubahan iklim. Adopsi bisnis berkelanjutan juga diharapkan mampu menghadirkan produk yang berkualitas dan ramah lingkungan, membuka akses ke pasar baru, peningkatan produksi, dan membuka peluang bisnis yang pada akhirnya mendorong pelaku UMKM naik kelas dan berdaya saing tinggi baik di pasar domestik maupun internasional. Selain itu, sulitnya UMKM memasuki kualifikasi pasar internasional juga masih menjadi persoalan yang besar.

Mengingat ekosistem UMKM yang besar, pemulihan UMKM tentunya membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Lalu, bagaimana peran masing-masing entitas dalam mewujudkan transformasi UMKM? Apa yang menjadi tantangan setiap entitas untuk mendorong pelaku bisnis naik kelas dan mampu bersaing di panggung nasional maupun internasional? Bagaimana sinergi setiap entitas untuk mencapai tujuan tersebut?

Webinar ini dirancang untuk memberikan perspektif mendalam terkait transformasi UMKM pascapandemi dan berbagai isu yang menjadi tantangannya. Peran, fokus, pencapaian, perencanaan, strategi, dan tantangan masing-masing entitas akan dibahas secara holistik dari berbagai sudut pandang entitas yang berperan. Webinar ini juga diharapkan dapat mendorong sinergi ekosistem yang produktif pada pertumbuhan dan perkembangan UMKM Indonesia.

Date

Jun 07 2022
Expired!

Time

1:00 pm - 4:00 pm
Category